Agar Tak Cuma Dijadikan Objek Program

Judul : Desa Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan
Penulis : Sunaji Zamroni (dkk)
Penerbit : IRE, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2015
Tebal : xlii+200 Halaman

Para penulis buku ini berupaya menyuguhkan perspektif yang berbeda terhadap desa yang selama ini menjadi objek pemerintah dalam pembangunan. Perbedaan tersebut kontras terselip dalam andaian dua kosa kata sama tapi beda makna, yaitu desa dipandang sebagai sumber mata air dan lokasi air mata. Sebutan desa sebagai sumber mata air merujuk pada kekayaan yang dimiliki desa mulai dari kekayaan alam hingga kekayaan sosial, misalnya gotong royong, kebersamaan, kekuatan toleransi, dan sebagainya. Tetapi, eksploitasi yang besar-besaran terhadap desa membuat warganya harus kehilangan sumber nafkah karena lahan yang seharusnya mereka garap telah beralih fungsi menjadi komoditas lain. Kondisi pilu ini menempatkan desa sebagai lokasi air mata yang menuntut warganya hijrah ke kota.

Buku yang berjudul ‘Desa Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan’ ini tersaji berdasarkan hasil penelitian para peneliti Institute for Research and Empeworment (IRE) Yogyakarta selama kurun waktu 2012-2013 bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Secara general-eksploratif, buku ini sangat lugas dan memberikan dampak positif bagi perkembangan pembangunan desa, terutama bagi para pendamping desa. Persoalan mendasar yang menjadi titik tekan dari para penulis, pasca disahkannya UU Desa, desa hanya dijadikan objek program pembangunan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, sehingga menempatkan desa sebagai sarana politik ampuh bagi kepala daerah yang memiliki kepentingan besar untuk mendongkrak popularitasnya.

Selain itu, anggaran yang cukup besar digelontorkan oleh pemerintah kepada desa terpencil, terluar, dan terdepan, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan anti-klimaks dari pembangunan itu sendiri. Seperti disampaikan oleh Marwan Ja’far (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) dalam sambutan di buku ini, walaupun dengan anggaran besar tapi bukan faktor utama untuk menyelesaikan permasalahan desa. Namun lebih dari itu desa harus menjadi ruang yang cukup efektif dalam mengembangkan diri sebagai desa mandiri sebagai titik balik dari sustainable livelihood (hlm. xxii). Kenyataan ini harus menjadi titik tekan dalam pembangunan sebagaimana cita-cita besar dari pemerintahan Jokowi-JK dengan konsep nawa citanya.

Pada sisi lain, permasalahan desa tidak berhenti pada sustainable livelihood sebagai dampak langsung dari kemiskinan, berdasarkan data BPS (2015) mencapai 10,96 persen (27,73 juta jiwa), dengan prosentase 62,65 persen penduduk miskin di desa. Tetapi, kondisi desa dengan kategori tertinggal dan sangat tertinggal masih banyak yang belum memiliki profil desa, jumlah penduduk miskin, kondisi infrastruktur, aparatur desa yang tidak kompeten, kantor desa yang tidak berfungsi bahkan tidak punya hingga abai terhadap potensi dan aset yang dimiliki oleh desa (hlm. 10).

Dengan konsep sustainable livelihood yang dikembangkan oleh para penulis pada dasarnya merupakan titik balik dari persoalan desa selama ini yang tidak menarik, usang, dan tidak perlu dibahas. Padahal, sumber penghidupan semua penduduk di bumi ini lahir dari desa. Bisa dibayangkan bila warga desa desa tidak memproduksi sumber penghidupan manusia di kota (sandang-pangan-papan), apa yang akan terjadi? Pada posisi ini kita harus bijak dalam memandang persoalan yang muncul.

Maka dari itu, hasil riset kolaboratif ini mengeksplorasi lebih dalam akan kekayaan alam dan potensi yang dimiliki oleh desa. Sebagai objek kajian di Kabupaten Gunung Kidul, pada umumnya hampir sama dengan kondisi daerah lain yang ada di pulau Jawa dan sekitarnya. Kondisi alam yang kering karena berbatuan karst (pegunungan berbatuan), lahan persawahan yang kering (upland farming), sumber mata air yang kurang, dan gersang, tetapi kekurangan potensi alam yang dimiliki daerah tersebut tidak menjadi alasan untuk tidak berkembang.

Kawasan ini telah menjadi sumber kekuatan ekonomi berbasis desa karena mampu mendongkrak potensi-potensi alam yang dimiliki, yaitu di sekitar pesisir pantai dan gua-gua serta sungai sawah bawah tanah menjadi sumber penghidupan baru bagi warga desa dengan menghadirkan ekonomi eko-wisata (environmental services based economic activities). Dengan demikian, tidak berlebihan bila buku ini merupakan salah satu alternatif pembangunan berkelanjutan di desa sebagai role model bagi desa-desa lain.  

Untuk mewujudkan desa berkelanjutan tersebut maka buku ini menyuguhkan beberapa pikiran penting bagi kita semua, yaitu ada 5 (lima) kajian pokok yang dibahas; perspektif teoritis baru tentang kemiskinan, tata kelola (governence) dan penanggulangan kemiskinan, strategi alternatif pembangunan sustainable livelihood, advokasi dan perubahan kebijakan, serta kontribusi nyata dari lembaga think thanks dalam mempertahankan desa sebagai kekuatan ekonomi-politik. Dari lima perspektif ini merupakan auto-kritik bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan pembangunan berbasis desa. Walaupun secara gamblang tersaji dalam buku ini merupakan hasil refleksi di daerah pedesaan Gunung Kidul, tetapi sebenarnya juga semacam ‘kelereng kecil’ atau miniatur sistem penghidupan yang dapat ditemukan di desa-desa di seantero Jawa, bahkan di Indonesia. Untuk itu, pandangan terpenting yang perlu sematkan dalam sanubari kita, pemerintah maupun pendamping desa, bahwa tidak elok bila desa hanya dijadikan objek program pembangunan semata. Padahal, potensi sumber penghidupan (sumber nafkah) bagi warganya jauh lebih utama. Oleh karena itu, sajian buku yang bersifat auto-kritik ini layak untuk kita baca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: