Menu Tutup

Agama dan Kemanusiaan

Saat ini kita melihat suatu kenyataan yang mencengangkan. Di mana agama telah menjadi tempat kericuhan, ketegangan, perpecahan, dan pertumpahan darah antar pemeluk-pemeluknya. Perdamaian sudah dihilangkan dalam konsep beragama kita. Meski pada dasarnya, agama merupakan pusat kekuatan yang mengikat kehidupan dan keyakinan, justru tidak menemukan korelasi, artinya tidak ada hubungan mesra antara nilai-nilai agama dan perilaku umat beragama.

Ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata lahirnya konflik beragama tidak lepas dari adanya perbedaan yang ditafsiri secara dangkal. Asumsi bahwa perbedaan itu adalah pertentangan yang harus dibasmi dan dikubur dalam-dalam menjadi awal dari konflik umat bergama dewasa ini. Maka perlu ada jalan anternatif untuk mengajak masyarakat beragama kembali memahami sejarah agama itu sendiri.

Muctarom Zaini (2009), mengatakan bahwa kesibukan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menyebabkan waktu untuk belajar agama kurang, sehingga pemahaman mereka lebih cendrung bersifat paternalistik (mengandalkan figur atau tokoh kunci). Sehingga dalam kehidupan beragama justru mengacu pada hal-hal yang sifatnya material dan mengabaikan yang sifatnya transendental.

Lebih lanjut menurut Syaifuddin Azwar (2007), dengan memahami berarti sanggup menjelaskan, mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, meramalkan dan membedakan. Dengan demikian, adanya suatu pemahaman terhadap agama yang dianut akan menjadi jembatan untuk tidak melukai umat lain yang berbeda dengan keyakinan dan kelompok sendiri. Inilah yang dinamakan dengan ketakwaan dan spirit moral beragama yang baik.

Absennya paradigma yang memahami ajaran agama sangat berdampak besar pada pola kehidupan umat beragama. Maka perlu adanya perhatian khusus terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama. Salah satunya memahami setiap ajaran yang dibawa oleh Rosul dan para penerusnya, langkah ini baik untuk menjaga marwah dan eksistensi agama dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Islam, Keadilan dan Persaudaraan

Dalam agama Islam misalnya, hampir setiap hari perbedaan keyakinan, madzhab, organisasi dan ritual keagamaan berkahir dengan pertikaian dengan membawa panji-panji agama. Padahal dalam Islam ada satu konsep keadilan yang sudah lama diajarkan Nabi Muhammad SAW. Di mana keadilan di sini merupakan pilar mendasar yang dijadikan pegangan dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.  Yang artinya:

“… Dan apabila kau berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat(mu)…” (QS. Al-An’am: 152).

Sikap adil dalam Islam sudah dianjurkan sejak dalam perkataan. Manusia diupayakan untuk selalu berkata yang baik, jujur dan lebih-lebih selalu mempertimbangkan apa yang seharusnya dikatakan. Dorongan untuk selalu berkata baik dan benar sudah dituntun dalam ajaran agama Islam.

Lebih jauh dari itu, Islam juga mengajarkan untuk selalu bersikap ramah, lemah lembut dan tidak menganiaya terhadap kaum lemah, baik itu umat Islam sendiri ataupun umat agama lain. sehingga ketika sikap adil terhadap manusia yang berbeda itu diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka akan terjalin suatu hubungan harmonis dan tentram.

Tentu konsep adil yang paling ditekankan dalam Islam di sini adalah “keadilan sosial” yang artinya umat Islam diwajibkan untuk memperhatikan kerja-kerja sosial. Umat Islam dituntut untuk memberi sebagaian harta terhadap orang miskin, lemah, duafa dan juga anak yatim. Karena dalam kekayaan yang kita punya masih menyimpan sebagian hak orang lain. ini sesuai dengan ideologi Pancasila. Sila kelima menekankan konsep keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adanya sikap adil dalam kehidupan beragama, menunjukkan bahwa Islam sebenarnya mempunyai visi kemanusian yang tinggi. Bahkan Islam sudah tidak seharusnya dimaknai secara ideologi maupun teologi belaka. Islam harus hadir dalam kerja-kerja kemanusian atau lebih lanjut ajaran agama Islam harus menyentuh akar rumput permasalahan keadilan di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ajaran Islam yang menitik beratkan pada aspek kemanusian salah satunya adalah ukhuwah (persaudaraan). Dalam ukhuwah ini, terdapat rasa saling mencintai atau mahabahsesama umat manusia. Untuk sampai pada kecintaan terhadap manusia yang lain harus menghilangkan rasa benci, dengki dan dendam karena adanya permusuhan dan pertikaian atau konflik.

Mantan Rais Aam PBNU, KH. Ahmad Siddiq misalnya, pernah menyampaikan bahwa konsep ukhuwah (persaudaraan) ada tiga, yaitu; Pertama, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan dalam [agama] Islam), di mana umat Islam di seluruh muka bumi merupakan saudara yang harus sama-sama dikasihani dan diperhatikan hak dan kewajibannya.  Kedua, ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), manusia yang hidup dan besar di suatu negara tertentu harus mempunyai sikap persaudaaran atas dasar sesama anak bangsa. Tidak boleh terpecah belah dan harus mempertahankan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

Ketiga, ukhuwah basyariyah (persaudaraan atas dasar kemanusiaan). Tuhan menciptakan makhluknya di muka bumi dengan berbeda latar belakang, dengan tujuan untuk saling mengenal. Atas dasar inilah manusia sebagai hamba dari Tuhan layak untuk saling mencintai dan menyayangi sesama makhluknya.

Melihat kehidupan beragama kita akhir-akhir ini yang penuh dengan fanatisme golongan, apatisme antar umat beragama dan egosentrisme ormas dan kelompok yang cukup tinggi. Maka perlu untuk kembali menumbuhkan sikap persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya sikap persaudaraan itu, akan lahir kehidupan yang baik, damai dan juga terjalin solidaritas yang mapan.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: