Menu Tutup

Agama dan Karakteristik Masyarakat Perkotaan

Lembayung Radianty Ammanda*

Pada dasarnya kedudukan agama dalam kehidupan sangat penting, bahkan kehadirannya saja mudah ditemui dimana manusia hidup dan tinggal. Masyarakat mulai menyadari dan mempercayai bahwa ada kekuatan yang bisa dikuasai dari luar diri manusia dengan kekuasaan itulah yang memberikan dampak terhadap kehidupan. Bukti dari sebuah kekuatan, masyarakat mencoba merenung dengan mempertanyakan apa yang terjadi dalam fenomena tersebut, bagaimana bisa terjadi fenomena alam. Mengenai keadaan yang telah terjadi juga dipertanyakan dengan pertanyaan yang sama dari beberapa filsuf waktu itu pada akhirnya diputuskan jika kekuatan yang diyakini oleh masyarakat hanyalah mitos belaka. Jika kita ketahui agama bisa diartikan sistem kepercayaan sesuai dengan nilai-nilai sakral dan supranatural secara tak langsung bisa memberikan arah terhadap prilaku manusia itu sendiri, mengajarkan makna kehidupan dan menciptakan solidaritas antar sesama individu ada.

Menurut Max Weber agama muncul dengan adanya kepercayaan terhadap sesuatu yang gaib dengan mempengaruhi kehidupan kelompok masyarakat yang ada (Abdullah, 1977). Agama sangat beraneka ragam seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yudaisme dan Jainiseme agama yang disebutkan tadi termasuk agama keselamatan, walaupun tiap tradisinya memakai cara berbeda-beda dalam menanggapi pelaksanaanya (Turner, 2010).

Berbicara soal agama tentunya tidak akan terlepas dari berbagai pendapat. Dari banyak pihak pendapat lain secara etimologis memberikan arti makna agama lebih dekat dengan agama Hindu dan Budha. Pengertian agama juga begitu banyak, namun kalau kita lihat pemahaman dari Barat mereka meyakini jika religion hanyalah manusia dengan Tuhan saja dan tidak ada hubungan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu pemahaman diciptakan sebagai paham sekuler berbeda dengan bagaimana ajaran Islam memandang sebuah agama (Ishomuddin, 2002).

Peran agama sangat penting dalam kehidupan masyarakat, berguna untuk mempersatukan, mengikat bahkan melestarikan serta mempunyai fungsi beraneka ragam. Jika tidak bisa disatukan dengan baik maka akan timbul perpisahan dan tercerai berai. Akibatnya akan muncul perpecahan, sikap saling menghancurkan antar masyarakat. Beraneka macam agama melahirkan perbedaan sifat yang bisa memainkan perannya dengan baik secara kreatif, inovatif, revolusioner (Merton, 1949).

Masyarakat Perkotaan atau dikenal dengan masyarakat modern. Kalau sudah membahas masyarakat perkotaan maka akan bersentuhan dengan namanya masyarakat pedesaan. Namun dari kedua bentuk masyarakat tersebut mempunyai karakteristik yang amat jauh berbeda. Akan tetapi keduanya mempunyai keterhubungan satu sama lainnya. Mengambil kutipan dari kompas.com, maka masyarakat modern bisa dikatakan sebagai masyarakat yang terjadi dari hasil transformasi masyarakat pedesaan, terjadinya transformasi ini tidak terlepas dari adanya perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat itu sendiri. Perubahan terhadap suatu masyarakat ini tidak dapat dicegah, hal ini disebabkan adanya dinamika yang terjadi di setiap era kehidupan, misalnya saja sebelum terjadinya renaissance masyarakat Eropa masih diselimuti oleh tekanan para gereja yang sudah runtuh karena adanya transformasi sosial masyarakat Eropa pada saat itu.

Mengenal Masyarakat Perkotaan

Modernisasi menggambarkan adanya kemajuan dan perkembangan dalam kehidupan masyarakat yang mencakup berbagai aspek, dimana kehidupan disana dikenal serba mewah, dengan adanya peralatan canggih, pendidikan yang tinggi sudah terlihat di dalam masyarakat Kota. Pertumbuhan ekonomi, dan teknologi informasi mulai meningkat sehingga setiap orang yang berada di Kota harus mengikuti perkembangan tersebut. Oleh sebab itu tidak bisa dipungkiri jika masyarakat perkotaan kini terlihat lebih unggul dari masyarakat pedesaan sebelumnya. Dikarenakan adanya faktor informasi yang mereka dapat kini mereka bisa mulai berpikir lebih unggul sehingga masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan lebih dikenal sebagai masyarakat rasional.

Disisi lain kehidupan terlihat mewah membuat masyarakat yang hidup di daerah perkotaan dituntut lebih keras bekerja dalam memenuhi gaya hidup mereka. Oleh sebab itu, tak jarang lagi orang-orang yang terlihat tak mampu untuk menggarungi kehidupan di perkotaan, dengan sendirinya akan mudah terasingkan dalam kehidupan anggota masyarakat. Sering terdengar istilah bahwa “kehidupan di Kota itu lebih keras” hal ini menunjukkan bahwa kehidupan didalam masyarakat perkotaan penuh dengan perjuangan bagaimana caranya mereka bisa memenuhi kehidupan ekonomi sebagai cara untuk mempertahankan hidup di sebuah Kota. Sehingga masyarakat berlomba-lomba dalam bekerja, tidak melihat sebagian paruh waktu lagi, dimana mereka setiap harinya selalu bekerja mulai matahari terbit sampai terbenam lagi. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat perkotaan lebih sering menghabiskan waktu mereka untuk mencari kesibukan dalam hal pekerjaan, hal itu yang mereka lakukan, mereka dituntut untuk bekerja keras agar dapat mencukupi kebutuhan masing-masing orang.

Menurut Marx, bahwa manusia telah dikondisikan oleh bahan-bahan produksi, yang mengakibatkan mereka harus dituntut untuk menjadi konsumen dalam suatu sistem kapitalisme. Maka setiap orang harus kuat dalam mengikuti landasan ekonominya, sedikit meminjam pandangan dari International II bahwa sudah jarang masyarakat itu berjalan menurut hukum ekonomi. Sehingga tidak menjadi suatu yang asing lagi dalam masyarakat modern, ketika mereka sudah disibukkan dalam hal pekerjaan. Meskipun begitu, pada faktanya masyarakat modern telah menjadi masyarakat yang jauh dari nilai masyarakat tradisional dengan lebih mementingkan dalam hal kerja sama, gotong royong, dan kehidupan kelompok keagamaan. Sedangkan masyarakat perkotaan lebih mementingkan hak pribadinya masing-masing.

Sehingga masyarakat perkotaan lebih menekankan kehidupan individu daripada kehidupan kelompok. Oleh sebab itu, masyarakat perkotaan lebih sedikit terjadinya hubungan interaksi sosialnya. Salah satu faktornya itu mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja sehingga sebagian dari mereka tidak memperdulikan lagi adanya relasi sosial yang terjadi didalamnya sangat minim. Lebih buruknya lagi tak ada relasi sosial masyarakat perkotaan tak dijumpai dalam sistem sosial mereka, hal yang sama juga terjadi pada ranah keagamaan. Pemahaman keagamaan masyarakat Kota lebih didominasi oleh modernisasi dapat kita lihat ada perbedaan didalamnya. Yang mana pemahaman keagamaan masyarakat Kota sangatlah sedikit dibandingkan masyarakat yang masih berbaur dengan keadaan lingkungan tradisional. Di sisi lain masyarakat perkotaan dengan segala kekurangannya tidak perlu ditiru oleh masyarakat pedesaan, tentunya pengaruh perkotaan tidak dapat dibendung untuk masuk dan mempengaruhi masyarakat pedesaan, namun masyarakat tradisional perlu mengetahui pengaruh yang mana untuk dicontoh oleh masyarakat tradisional.

Masyarakat tradisional akan benar-benar hilang dalam sebuah sistem yang ada di alam ini, jika mereka tak dapat membedakan pengaruh dari dua modern ini, maka hal-hal yang perlu diambil dan dihapus dari kedua masyarakat sosial itu. Pada masyarakat perkotaan itu dilengkapi dengan pendidikan yang tinggi, rasionalitas, serta pikiran yang terbuka, perlu ada dalam masyarakat pedesaan agar masyarakat tradisional mempunyai suatu pola pikir yang baru dalam kehidupan tradisionalnya, pendidikan yang tinggi misalnya tentu akan berdampak terhadap kesadaran masyarakatnya, bahwa norma yang dianut masyarakat tradisional harus dilestarikan atau dengan pengetahuan yang didapatkan setiap masyarakat dapat membuat mereka menghasilkan ide-ide baru dalam melestarikan ciri tradisionalnya.

*Penulis Mahasiswa Prodi Sosisologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: