Adat Dan Akad; Pengaruh Weton Dalam Perkawinan

Weton dalam masyarakat jawa cukup berpengaruh signifikan sebagai tradisi turun temurun dari nenek moyang, yang pada dasarnya weton menjadi metode untuk menentukan karakter seseorang melalui kalender tradisional jawa. Manusia yang terlahir didunia diberikan bekal oleh  tuhan sang pencipta berupawatak atau karakter untuk membedakan antara manusia satu dengan manusia yang lainnya. Weton menjadi penentu karakter bahkan nasib seseorang sejak dari kelahirannya.  Dalam weton penanggalan terbagi menjadi lima pasaran yakni : legi, pahing, pon, wage dan kliwon dari tujuh hari dalam seminggu, dari perhitunagn tersebut nantinya dapat dilihat perwatakan, karakter dan nasib yang telah digariskan oleh tuhan.

            Berkaitan dengan penanggalan tersebut sebenarnya para leluhur terdahulu  menyelipkan makna filosifis jawa yang kental, dan jika di pelajari memiliki tuntunan baik untuk pembentukan hidup seseorang, baik karakter, watak atau lainnya. Lebih spesifik dalam masalah perkawinan atau rumah tangga di kaitkan dengan kecocokan weton lahir, kecocokan antara neptu calon suami dan calon istri, diyakini sangat berpengaruh dalam kelangsungan kehidupan rumah tangga, langgeng atau berkahir dengan perceraian.

            Terjadi dalam banyak kasus, jika hasil perhitungan weton tidak ditemukan hasil yang baik maka bisa berujung pada batalnya pernikahan, hal ini yang menjadi banyak dari kalangan masyarakat  memiliki dua pandangan yang sangat kontrdiktif antara yang setuju dan tidak setuju dengan praktik weton yang masih sering terjadi.

            Dalam islam sendiri weton sama sekali tidak menjadi standar patokan calon pasangan, dalam islam asalkan calon suami dan calon istri sama-sama baik, keluarga sudah setuju, tidak ada paksaan, sama-sama sudah siap, terlebih hasil istikharah maka weton sama sekali tidak menjadi pertimbangan.

            Bagi masyarakat yang masih menerapkan weton jawa sebagai penentu kecocokan, dianggap bisa meminimalisr bencana dan kesialan dari masing-masing watak dua calon pasutri tersebut. biasanya penghitungan di mulai ketika pasangan memutuskan untuk menikah, bila mendapat hasil yang baik maka penghitungan dilanjutkan dengan penentuan untuk hari dan tanggal pernikahan agar dalam pelaksanaan perayaan bisa lancar, namun bila hasil hitungan tidak sesuai maka harus siap mencari calon lain untuk mengganti pasangan hingga dirasa “baik”. Bila melanggar maka bersiaplah menerima protes, kesialan, bahkan pengucilan. Hal ini biasa terjadi di kalangan masyarakat yang masih kental dengan adat istiadatnya.

             Budaya weton dengan sejarah panjang namun minim literasi dalam beberapa kasus sering dianggap hanya sebagai mitos belaka, dan sangat di pertanyakan kebenaranya bagi golongan masyarakat modern, termasuk masalah perkawinan, bagi orang-orang yang kontra terhadap perhitungan weton, mereka berargumen bahwa banyak pasangan suami istri di luarsana yang tidak menganut weton dan tetap memiliki hubungan yang baik-baik saja. Bahkan menurut mereka tradisi weton adalah salahsatu warisan leluhur yang tidak masuk logika.

             Namun tradisi ini sudah dalam mengakar menjadi dogma bagi masyarakat jawa, dan kebudayaan di daerah manapun tidak bisa di benturkan dengan logika, seperti kentalnya filosofi dalam weton, menggunakannya pun harus dengan pemahaman yang kuat dan matang, karena bagaimanapun weton adalah merupakan peninggalan leluhur sama seperti produk kebudayaan lainnya. Agar tidak terjadi salah kaprah dalam praktiknya.

            Dilihat dari hokum perkawinan di Indonesia pun weton sama seperti dalam islam tidak menyingung barang sedikitpun mengenai prasyarat perkawinan dengan perhitungan weton antara calon pasutri, hanya saja yang tetap menjadi persoalan adalah masyarakat awam yang yang memegang teguh budaya tersebut sering menjadi penghalang dalam niatan menjalankan ittikat baik ingin melaksanakan pernikahan, akan sangat miris apabila mendengar cerita kedua pasangan yang tidak jadi menikah karena orang tua dari salah satu pihak tidak mendapati hasil perhitungan weton yang baik antara keduanya.

            Pengaruh budaya weton memang sangat kental dalam masyarakat jawa. Weton atau wetonan ini merupakan salah satu bentuk budaya yang patut dihormati sebagai

warisan, Bukan hanya dalam perkawinan, tapi kelahiran bayi, dan penentuan waktu tanam, bahkan asal usul tentang penanggalan masih kerap digunakan dalam beberapa kegiatan nasional.

            Hal tersebut menjadi bukti bahwa wetonan bukanlah budaya sepele yang mudah untuk di tinggalkan, antara setuju dengan tidak, fakta di masyarakat sudah jelas menunjukkan dampak positif dan negatif dalam praktik wetonan. Adapun dampak positif dari wetonan adalah pada akhirnya orang memiliki kesadarn penuh akan dirinya dan karakternya sehingga dapat timbul inisiatif untuk melakukan perubahan sikap secara terus menerus dengan melakukan hal-hal yang berguna. Adapun dampak negative yang terjadi adalah, masyarakat yang percaya dengan membabi buta dan fanatik yang berlebihan menutup mata terhadap perkembangan kebudayaan yang terjadi, meninggalkan logika dan bisa juga merugikan orang lain, seperti contoh diatas.

            Kesimpulannya wetonan adalah sebuha budaya dalam masyarakat jawa yang merupakan peninggalan leluhur terdahulu, dengan makna filosofis yang ada dilalamnya. Memiliki tujuan yang baik untuk kehidupan manusia. Meskipun terdapat pro dan kontra dari berbagai kalangan.

            Terkait masalah weton dalam perkawinan, dalam islam dan undang-undang  samasekali tidak membahas tentang keterlibatan weton dalam praktiknya, namun masih banyak dari kalangan masyarakat yang memegang teguh adt istiadat tersebut menerapkan perhitungan weton dalam menentukan baik tidaknya seatu hubungan antara calon pasutri.

            Wetonan masih sangat berpengaruh di kalangan masyarakat jawa dengan dampak positif maupun negatif, yang terkandung di dalamnya. Seyogyanya kita sebagai masyarakat terdidik mensikapi fenomena tersebut dengan bijak, bahwa perlu di ingat segala sesuatu termasuk nasib seseorang pada hakikatnya ditentukan oleh tuhan yang maha esa, perihal karakter, watak bisa terbentiuk dari pergaulan dan lingkungan. Penggambaran weton terhadap nasib, karakter serta watak seseorang hanyalah sebagai sebuah metode yang berfungsi menerka atau peramalan hidup semata yang dibuat oleh manusia, maka dengan begitu tidak perlu terlalu fanatik dan mempercayai wetonan sehingga terjadi lagi peristiwa miris gagal nikah akibat weton. Cukup di jadikan sebagai motivasi agar hidup senantiasa lebih baik adalah cara yang paling tepat untuk mensikapi tradisi budaya wetonan tersebut.

Ahmad Maulana Hasan

Mahasiswa penuh semangat, pekerja keras, suka ngobrol bareng sambil ngopi, suka menulis dan anak-anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: